Peristiwa heroik Puputan Margarana pada 20 November 1946 menjadi salah satu tonggak perjuangan rakyat Bali melawan penjajah Belanda. Pertempuran dahsyat itu terjadi di Subak Uma Kaang, Desa Marga (kini Desa Marga Dauh Puri), Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.
Saat itu, lahan palawija yang sedang menghijau dijadikan tempat bertahan Pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai. Pasukan yang hanya berjumlah 96 orang itu terkepung rapat oleh ratusan tentara Belanda/NICA. Tidak ada celah untuk meloloskan diri. Demi menghindari jatuhnya korban di tengah permukiman, I Gusti Ngurah Rai memilih bertempur di tengah ladang.
Pertempuran sengit berlangsung selama delapan jam. Pasukan Ciung Wanara berjuang hingga titik darah penghabisan. Hasilnya, sekitar 350 tentara Belanda tewas, namun seluruh pasukan Ciung Wanara gugur. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Puputan Margarana – simbol keberanian dan pengorbanan tanpa batas demi kemerdekaan.
Berikut kesan dan pesan tiga tokoh pejuang Bali yang mengenang peristiwa tersebut:
I Ketut Gede Dharma Yudha
Pejuang asal Desa Celuk, Gianyar, ini sedang berada di Markas Besar DPRI Badung saat Puputan Margarana terjadi. Malam harinya, ia menerima laporan tentang pertempuran yang menewaskan seluruh pasukan Ciung Wanara.
Mendengar kabar itu, ia merasa lemas dan berduka, tetapi kemarahannya justru membakar semangat juang. Menurutnya, gugurnya I Gusti Ngurah Rai bukanlah akhir perjuangan.
Pesannya:
Generasi penerus harus melanjutkan pengabdian para pahlawan.
Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi.
Memahami, menghayati, dan mengamalkan Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai 1945.
I Made Pugeg
Pemimpin Pasukan Kirikumi ini mengenang Puputan Margarana dengan penuh haru. Menurutnya, gugurnya I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya adalah takdir perjuangan.
Ia menilai Ngurah Rai adalah pemimpin yang cerdas dan berpengalaman dalam perang gerilya. Namun, kondisi yang terkepung membuat pertempuran habis-habisan tak terhindarkan.
Pesannya:
“Jangan berlarut dalam kesedihan. Kita harus mengambil hikmah dari pengorbanan itu. Kini perjuangan bisa dilakukan dengan cara bekerja keras dan berbuat terbaik untuk bangsa.”
Ni Nyoman Sriati
Sebagai perawat di RSUD Wangaya, Denpasar, Ni Nyoman Sriati menerima jenazah I Gusti Ngurah Rai dan para pejuang lainnya. Ia bersama rekan-rekan memandikan jenazah, membungkusnya dengan kain putih, dan mengantarkan ke tempat asal masing-masing.
Mengantar jenazah ke Carangsari bukan hal mudah. Rombongan sempat dihadang tentara Belanda dan mata-mata lokal, namun mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Puri Carangsari.
Pesannya:
Generasi muda harus mengerti bahwa kemerdekaan dibayar dengan pengorbanan jiwa dan raga. Tugas kita sekarang adalah mengamalkan nilai kepahlawanan agar Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan maju.
Penutup
Puputan Margarana mengajarkan kita arti keberanian, pengorbanan, dan persatuan. Nilai-nilai itu tidak hanya relevan di masa perang, tetapi juga di masa kini — diwujudkan dengan bekerja keras, berprestasi, dan menjaga persatuan bangsa. *

