Tabanan, 20 November 1946. Fajar di Subak Uma Kaang, Desa Marga, diselimuti kabut dan aroma mesiu. Bukan lagi bunyi alu menumbuk padi yang terdengar, melainkan deru dentuman senapan dan mortir yang menggetarkan bumi Bali. Di tengah sawah yang baru saja dijamah embun, sebuah drama kepahlawanan sedang mencapai klimaksnya. Pasukan “Ciung Wanara”, di bawah komando Letkol I Gusti Ngurah Rai, telah memilih untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.
Di antara barisan pejuang tersebut, berdirilah satu sosok perempuan dengan nama Men Lumut.
Ia adalah wajah yang luput dari bingkai sejarah besar. Ia adalah nama yang tak sempat dilantunkan dalam lagu-lagu perjuangan. Namun, keberadaannya membuktikan heroisme di Bali adalah nyala api yang tak mengenal sekat gender.
Nama Men Lumut terasa seperti bisikan angin di atas nisan-nisan megah. Di Taman Pujaan Bangsa Margarana, tempat 96 ksatria Bali bersemayam, nisannya tersudut dan sederhana. Di batu itu hanya terukir: “Men Lumut – Pajangan (Payangan Marga)”. Tak ada foto, tak ada ukiran kisah panjang yang memuji.

Namun, dalam kesederhanaan itulah terletak kekuatan narasinya. Ia adalah satu-satunya perempuan yang tercatat resmi gugur di palagan Margarana. Kehadirannya di daftar itu, dengan pangkat Sersan Dua – sebuah posisi tempur yang langka bagi perempuan di era 40-an – menjadi penanda bahwa ia bukan sekadar penyokong, melainkan seorang pejuang aktif, setara dengan rekan-rekan lelakinya. Ia mengangkat senjata, bukan hanya menyalurkan logistik.
Men Lumut berasal dari Banjar Medi, Desa Payangan, Kecamatan Marga, Tabanan. Ketika proklamasi kemerdekaan menggema, ia tidak memilih berdiam diri. Panggilan membela tanah air menjadikannya bagian tak terpisahkan dari denyut perlawanan rakyat.
Ia bergabung dengan Ciung Wanara, sebuah resimen yang dikenal militan dan berani. Keputusan ini menempatkannya di pusaran badai. NICA, dengan kekuatan penuh, persenjataan otomatis, dan dukungan udara dari pesawat B-24, melancarkan operasi militer yang bertujuan melumpuhkan perlawanan Bali.
Pertempuran Margarana bukanlah duel seimbang; itu adalah sikap. Pasukan Ngurah Rai, berjumlah sekitar 105 orang, membentuk pertahanan segi empat yang genting di Subak Uma Kaang. Mereka digempur, dibombardir, dan dikepung. Namun, tekad mereka bulat: pantang mundur.
Gugur Dalam Pelukan Hormat
Ketika Kapten Sugianyar jatuh, I Gusti Ngurah Rai menyadari bahwa situasi telah mencapai batasnya. Daripada menyerah dan dihinakan, ia memilih tradisi tertinggi Bali yakni puputan perlawanan yang mengakhiri semua perlawanan.
Perintah pun diberikan: keluar dari perlindungan (stelling), bertempur jarak dekat, dan hadapi musuh secara langsung. Itu adalah penyerangan bunuh diri yang didasari kehormatan suci.
Satu per satu prajurit Ciung Wanara tumbang. I Gusti Ngurah Rai, sang komandan, gugur, menjadi simbol perlawanan abadi.
Men Lumut termasuk di antara mereka yang memilih mati terhormat. Ia tidak lari. Ia tidak gentar. Keberaniannya, yang berpadu dengan kearifan tradisi Bali, menempatkannya sejajar dengan pahlawan-pahlawan besar lainnya. Kisahnya sunyi, tetapi pekiknya tentang persamaan hak dalam pengorbanan sangat lantang.
Abadi Sebagai Inspirasi
Kisah Men Lumut adalah permata yang harus dibersihkan dari debu lupa. Ia mewakili ribuan perempuan Indonesia yang terlibat aktif di garis depan, yang kontribusinya seringkali tereduksi menjadi catatan kaki.
Pada Hari Ibu lalu, ketika mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, menaburkan bunga di nisannya, hal itu menjadi pengakuan resmi terhadap peran historisnya.
“Ini patut kita apresiasi, seorang tokoh perempuan Bali ikut berjuang. Ini harus menjadi penyemangat dan inspirasi bagi semua perempuan, khususnya perempuan Bali,” ujar Bintang Puspayoga.
Di tengah riuh peringatan yang terfokus pada nama-nama besar, nisan Men Lumut berdiri sebagai monumen keheningan. Ia mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil kolektif, sebuah puputan yang dilakukan oleh seluruh anak bangsa. Ia adalah bukti bahwa di palagan pengorbanan, heroisme sejati tidak pernah mengenal gender. *






