Patriotisme Gen-Z, Apa Kabar?

Anak-anak muda Gen Z fokus pada gawai di ruang publik. Keterangan Foto: Patriotisme di era digital: tidak lagi angkat senjata, melainkan berprestasi dan bijak menggunakan media sosial untuk kemajuan bangsa.

Pagi tadi saya minum kopi sambil melihat anak-anak muda di salah satu ruang publik. Gadget di tangan, wajah fokus. Mungkin sedang belajar, mungkin juga sedang “nongkrong” di dunia maya.

Tiba-tiba pikiran saya melayang ke cerita Puputan Margarana. Peristiwa 20 November 1946. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya. Habis-habisan melawan Belanda. Darah tumpah, nyawa melayang. Semua demi kata: Merdeka.

Anda tahu? Kita sekarang asyik ngopi, asyik scrolling TikTok, semua berkat mereka.

Tapi, kadang hati ini miris. Anak-anak Generasi Z yang katanya harapan bangsa, kok ya klepek-klepek dengan nilai-nilai lama.

Saya dengar dari guru-guru. Fenomena di sekolah.

Saat bendera naik, lagu Indonesia Raya berkumandang, ada yang cekikikan. Mengheningkan cipta dianggap waktu luang buat ngobrol. Upacara? “Ah, formalitas belaka,” kata mereka.

Benarkah begitu?

Demam Korea dan Rasa Malu
Globalisasi, kata kuncinya.

Masuknya budaya luar gampang sekali. Drama Korea, fesyen impor, musik luar. Kita ikuti tanpa saring. Saya tidak bilang itu buruk. Inovasi memang datang dari mana saja. Tapi, kalau sampai lupa dengan batik, lupa dengan angklung, lupa dengan warisan leluhur? Ini masalah.

Lebih parah lagi, gengsi pakai produk lokal. Lebih bangga tas merek luar. Seakan-akan, produk Indonesia itu “kelas dua”.

Padahal, patriotisme hari ini bukan lagi pegang bambu runcing. Bukan juga harus jadi tentara.

Patriotisme hari ini adalah prestasi.

Kita bisa “berperang” di kancah sains, olahraga, seni. Membawa nama Indonesia harum. Itu sudah patriot.

Patriotisme hari ini adalah cinta produk sendiri. Beli sepatu buatan UKM Bandung, pakai baju dari desainer lokal. Itu sudah ikut membela ekonomi bangsa.

Patriotisme hari ini adalah bijak bermedia sosial. Jangan hanya share drama bullying di sekolah atau berita hoaks. Sebarkan keindahan Raja Ampat, kekayaan kuliner kita.

Kopi Pancasila
Penyebab lunturnya ini memang kompleks. Minimnya teladan. Anak muda lebih gampang lihat selebgram flexing ketimbang membaca biografi pahlawan. Pendidikan sejarah yang kaku.

Juga soal gadget. Akses ke luar negeri hanya sejauh ujung jari.

Maka, solusinya harus relevan.

Patriotisme itu harus dibungkus manis. Jangan melulu seminar formal.

Amalkan saja Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin. Kerja keras, cerdas, dan yang paling penting, ikhlas.

Mulailah dari meja kerja Anda, dari laptop Anda. Kalau Anda kerja keras, itu Anda sudah berjuang untuk masa depan Anda sendiri, yang otomatis akan jadi masa depan bangsa.

Kita adalah Generasi Z. Kita pewaris semangat Ngurah Rai. Jangan sampai api itu padam, hanya karena kita terlalu asyik scroll layar ponsel.

Mari kita jaga api nasionalisme itu, dengan cara kita, di era digital ini. Jangan cuma jadi cerita di buku sejarah. *yas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *