Jangan Cuma Pintar tapi harus “Ngegas”

Saya sering bilang, di zaman sekarang ini, pintar saja tidak cukup. Sama sekali tidak. Dulu, kita mungkin bangga kalau anak kita juara kelas atau lulus cum laude. Sekarang, itu baru tiket masuk. Permainan yang sesungguhnya ada di lapangan.

Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) di Denpasar saat merayakan hari jadi, isinya bukan cuma potong tumpeng. Mereka punya visi keren: Membangun Insan Kreatif, Inovatif, dan Berwawasan Kebangsaan.

Itu dia kuncinya!

Kreatif Tanpa Kompas? Bahaya!
Coba Anda lihat sekeliling. Disrupsi teknologi ini seperti banjir bandang. Setiap hari ada inovasi baru, ada aplikasi baru, ada cara bisnis baru. Kreativitas dan inovasi memang mata uang kita yang baru. Tanpa itu, kita ketinggalan.

Tapi, pernahkah kita berpikir: inovasi ini untuk apa?

Saya khawatir, kalau kreativitas itu cuma didorong oleh nafsu untung dan kepentingan pribadi, hasilnya bisa jadi pedang bermata dua. Bisa jadi hacker yang cerdas, tapi merugikan banyak orang. Bisa jadi pengusaha yang inovatif, tapi abai pada lingkungan dan masyarakat.

Di sinilah wawasan kebangsaan masuk. Dia adalah kompas-nya.

Kompas itu memastikan bahwa segala kecerdasan dan ide gila kita itu selalu diarahkan ke satu tujuan: gotong royong dan pengabdian pada bangsa. Inovasi harusnya menanggulangi masalah di Indonesia, bukan cuma memperkaya satu-dua orang saja.

Belajar dari Men Lumut
Kita harus belajar dari sejarah, bukan cuma dihafal. Para mahasiswa Stispol Wira Bhakti dan siswa SMKS Wira Bhakti itu diajak ziarah ke lokasi Puputan Margarana. Itu cara cerdas menanamkan nilai.

Sebut saja Men Lumut. Pahlawan perempuan itu gugur di Margarana. Itu bukan sekadar cerita heroik masa lalu. Itu representasi dari semangat rela berkorban demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Di era modern, semangat rela berkorban itu ya dedikasi tanpa pamrih. Kreativitas kita harus rela dipakai untuk memecahkan masalah lokal, bukan cuma mencari like di media sosial.

Kurikulum Jangan Cuma Laporan
Lalu, apa yang harus dilakukan sekolah dan kampus?

Institusi pendidikan harus jadi kawah candradimuka, bukan sekadar ruang kelas.

  • Ubah Tugas Akhir. Tugas akhir mahasiswa jangan cuma jadi tumpukan kertas laporan. Dorong mereka bikin proyek nyata yang bisa menyelesaikan masalah di lingkungan mereka. Mereka harus ngegas langsung ke masyarakat.
  • Kolaborasi Lintas Ilmu. Jangan biarkan mahasiswa teknik hidup di dunianya sendiri. Biarkan mereka ngobrol dengan mahasiswa ilmu sosial. Hasilnya pasti luar biasa: aplikasi yang canggih dan berempati. Inovasi yang punya hati.
  • Wawasan Kebangsaan Jadi Jiwa. Pancasila itu bukan sekadar hafalan butir-butir. Dia harus jadi jiwa dari semua kegiatan. Pengabdian masyarakat bukan pelengkap, tapi esensi.

Saya yakin, dengan memadukan kreativitas tanpa batas dan wawasan kebangsaan yang kokoh, kita akan mencetak generasi yang bukan cuma cerdas, tapi juga patriot intelektual. Mereka siap memajukan bangsa, bukan cuma diri sendiri. Itu yang namanya generasi emas, generasi yang ngegas! *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *