Saya selalu percaya, investasi paling dahsyat itu bukan di tambang emas atau properti mewah, tapi di otak anak muda. Investasi pendidikan. Sayangnya, seringkali tembok birokrasi dan biaya mahal yang membuat banyak anak terpaksa hanya bisa gigit jari melihat sekolah bagus dari kejauhan.
Pagi itu di Denpasar, saya menghadiri acara yang membuat hati sedikit lega. Sebuah yayasan merayakan ulang tahun ke-74. Usia yang bukan main. Namanya Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP). Saya melihat wajah-wajah bangga para pengurus, mereka merayakan HUT bersama dua lembaga pendidikan andalannya: Stispol Wira Bhakti dan SMKS Wira Bhakti.
Tentu, perayaan ulang tahun itu biasa. Tapi yang luar biasa adalah komitmen yang mereka jaga selama ini: sekolah yang murah.
Ketua YKP, I Gusti Ngurah Gede Yudana, menjelaskan dengan tegas. Katanya, ini adalah wujud nyata janji pendiri yayasan, para pejuang kita. Tujuannya jelas, agar lembaga ini jadi idola masyarakat kecil.
Coba Anda bayangkan, di tengah kenaikan harga sekolah yang gila-gilaan, SMKS Wira Bhakti ini berani pasang tarif. Mereka tidak memungut uang gedung. Uang SPP-nya? Hanya Rp 150.000 per bulan! Fantastis, kan?
Bukan hanya itu, mereka juga memberi bonus: alumni SMKS yang mau lanjut ke Stispol Wira Bhakti (kampus mereka yang punya Prodi Administrasi Publik, Administrasi Bisnis dan Pariwisata), langsung dapat gratis SPP satu tahun.
Ini bukan soal bisnis pendidikan. Ini etos kebangsaan.
Mereka tidak hanya bicara di dalam kelas. Saat terjadi banjir di Denpasar, YKP langsung bergerak memberi bantuan. Mereka juga mengajarkan cara mengelola sampah dengan membuat teba modern.
Yang paling menyentuh, mereka tidak lupa akar. Mereka tetap rutin memperingati peristiwa perjuangan kita, dari Puputan Margarana sampai mengunjungi keluarga pejuang seperti Sersan Men Lumut. Mengingatkan kita, bahwa kemerdekaan ini bukan pemberian. Ada nyawa dan darah di baliknya.
Gubernur Bali, Wayan Koster, juga hadir – diwakili Kepala Kesbangpol. Ia menegaskan bahwa YKP adalah pilar pendidikan nilai kebangsaan. Jelas, pemerintah pun mengakui.
Jadi, kuncinya bukan hanya murah. Murah saja tidak cukup. YKP menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas, yang menanamkan nilai sejarah dan kepedulian sosial, itu bisa diakses siapa saja. Ini adalah cara cerdas untuk memastikan cita-cita para pahlawan tidak mati, tapi terus tumbuh di generasi muda.
Kalau semua yayasan pendidikan punya hati seperti YKP, saya yakin, masa depan Indonesia tidak perlu kita ragukan lagi. Kita hanya perlu meniru konsistensi dan keberpihakan mereka. *




