Pagi-pagi begini, saya sering iseng melihat ke laman berita, terutama berita-berita daerah. Bukan untuk mencari gosip, tapi kadang, hal-hal kecil di daerah itu justru punya nilai yang besar. Kemarin, saya lihat berita soal peringatan Puputan Badung di Denpasar. Pikiran saya langsung melayang jauh.
Saya teringat pepatah lama, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.” Tapi, para pejuang di Badung itu, yang mati bersama Raja I Gusti Ngurah Made Agung pada 1906, meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal: martabat. Mereka memilih puputan, bertarung sampai habis, daripada harus tunduk pada kolonialisme Belanda
Anda mungkin berpikir, apa hubungannya cerita 118 tahun lalu itu dengan hidup kita hari ini? Jawabannya: semuanya.
Perhatikan baik-baik. Puputan Badung itu dipicu hal yang sepele: klaim barang hilang dari kapal Tiongkok yang nyasar. Belanda mau Raja Badung bayar ganti rugi. Raja menolak. Kenapa? Karena ini soal kebenaran dan kedaulatan moral. Bukan soal uangnya, tapi soal intervensi dan pemaksaan. Raja tahu rakyatnya jujur, dan beliau memilih melawan ancaman militer daripada merendahkan martabat rakyat.
Ini yang kita sebut Mati Tan Tumut Pejah. Mati di fisik, tapi ideologi dan semangatnya tidak pernah mati.
Di zaman sekarang, kita tak lagi perang fisik melawan snapan Belanda. Musuh kita lebih halus, tapi sama mematikannya: korupsi kecil-kecilan yang merajalela, atau hoax yang membanjiri layar HP kita. Bukankah itu sama-sama upaya merusak martabat dan kebenaran?
Spirit Puputan di Era Digital
Bayangkan, jika Raja Badung dulu memilih berkompromi, “Ya sudahlah, bayar saja biar aman.” Selesai urusan saat itu, tapi harga diri bangsa hancur.
Spirit puputan hari ini menuntut kita untuk tidak kompromi dengan hal-hal kecil yang merusak. Para pejabat publik, Anda yang mengurus negara, jangan pernah anggap remeh korupsi receh. Masyarakat, kita semua, jangan pernah lelah melawan kebohongan dan ketidakadilan, sekecil apa pun itu.
Lihatlah Denpasar saat ini. Mereka juga menghadapi bencana, entah itu banjir atau krisis ekonomi. Setelah musibah, kita semua dituntut untuk cepat bangkit. Semangat Mati Tan Tumut Pejah harus menjelma menjadi spirit ketahanan. Boleh kerugian datang, tapi semangat membangun tidak boleh mati. Pura Dhipa Bara Bhavana, membangun kemakmuran, harus terus berjalan.
Kita harus mewarisi heroik ini, bukan dengan keris, tapi dengan integritas dan inovasi. Saya percaya, bangsa yang menghargai martabatnya, yang menolak keras ketidakbenaran, dari soal kecil sampai soal besar, adalah bangsa yang akan punya ketahanan kokoh menghadapi gejolak apa pun.
Jangan biarkan semangat Puputan Badung hanya jadi cerita di monumen. Jadikan ia energi dalam setiap langkah dan keputusan kita. *




