Gugurnya I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar dalam Puputan Margarana

Patung I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar, simbol keberanian dan pengorbanan perwira muda Bali yang gugur dalam Puputan Margarana.

I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar adalah sosok perwira muda Tentara Republik Indonesia (TRI) Sunda Kecil yang namanya tercatat sebagai salah satu kusuma bangsa. Lahir di Gianyar, 12 Agustus 1924, beliau merupakan putra kelima dari pasangan I Gusti Ngurah Ketut Teken dan I Gusti Putu Tawi dari keluarga Puri Pacekan, Banjar Menega, Jembrana.

Pendidikan dan Awal Karier Militer

Pendidikan formal terakhirnya adalah Taman Madya (setingkat SLTA), walau tidak tamat. Pada 1943, ketika Jepang menguasai Bali, ia mengikuti wajib militer di asrama Renseitai, Banyumala, Singaraja. Kemampuannya yang cepat menguasai pelajaran militer membuatnya dipercaya menjadi komandan kompi setelah lulus pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) dengan pangkat Chudancho (setara kapten).

Pada masa itu, terdapat tiga batalyon (Dai Dan) PETA di Bali: Dai Dan I di Negara, Dai Dan II di Kediri, dan Dai Dan III di Klungkung. I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar ditugaskan di Dai Dan Klungkung sebagai komandan kompi.

Bergabung dengan TKR dan TRI

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Bali membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil. I Gusti Ngurah Rai dipilih sebagai pucuk pimpinan, dengan sejumlah staf, termasuk I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar. Beliau diangkat sebagai Komandan Polisi Militer TKR bersama rekan-rekannya.

Perundingan dengan militer Jepang agar senjata diserahkan kepada TKR gagal, sehingga diputuskan penyerangan serentak pada 13 Desember 1945. Sayang, serangan bocor dan gagal. Para pejuang mengundurkan diri ke pegunungan untuk menyusun strategi.

Pada 2 Maret 1946, Belanda mendarat di Sanur dengan pasukan Gajah Merah di bawah komando FH. Termeulen, dan segera menduduki kota-kota kabupaten di Bali. I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar memimpin pasukan gabungan Badung–Gianyar–Bangli–Klungkung untuk menyerang tangsi militer Gajah Merah di Denpasar. Walau hanya menewaskan 31 tentara Belanda, serangan ini mengguncang moral musuh.

Long March Gunung Agung

Setelah terbentuknya Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil pada 16 April 1946, pasukan gabungan dipusatkan di Banjar Munduk Malang, Selemadeg Timur. Dari sana, mereka melakukan Long March Gunung Agung (Juni–Juli 1946), sebuah perjalanan panjang dari Batukaru (Tabanan) menuju Tanah Aron (Karangasem) untuk mengobarkan semangat rakyat Bali Timur dan mengamankan wilayah Bali Barat.

I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar memimpin pasukan Badung dalam berbagai pertempuran, termasuk pertempuran besar di Tanah Aron yang berhasil memukul mundur militer Belanda.

Puputan Margarana: Puncak Perjuangan

Empat bulan kemudian, pecahlah peristiwa heroik Puputan Margarana pada 20 November 1946 di Subak Uma Kaang (kini Taman Pujaan Bangsa Margarana), Desa Marga, Tabanan.

Pertempuran berlangsung tiga tahap dari pukul 09.00 hingga 17.00. Pada tahap pertama, Pasukan Ciung Wanara berhasil membuat pasukan NICA kocar-kacir dengan tembakan pembuka I Gusti Ngurah Rai. Tahap kedua berlangsung lebih sengit ketika Belanda kembali menyerang dengan formasi bersayap, namun berhasil dipukul mundur lagi.

Tahap ketiga menjadi penentu. Belanda mendatangkan bala bantuan dari seluruh Bali, Lombok, dan bahkan mengerahkan pesawat pembom B-24 yang menghujani bom dan peluru. Pertempuran berubah menjadi gelap oleh asap bom, namun Pasukan Ciung Wanara tetap bertahan.

Dalam pertempuran inilah I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar, yang memimpin sektor pertahanan timur, terkena peluru dan gugur di medan laga. Gugurnya beliau mengguncang mental pasukan. Namun I Gusti Ngurah Rai memerintahkan perlawanan habis-habisan. Seluruh pasukan memilih puputan—bertarung hingga titik darah penghabisan. Pada akhirnya, 96 pejuang gugur, termasuk I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar, sebagai kusuma bangsa.

Warisan Perjuangan

Pengorbanan mereka memastikan semangat perlawanan rakyat Bali tetap menyala. Puputan Margarana menjadi simbol heroisme Bali, mengajarkan bahwa kemerdekaan harus dibayar dengan darah dan nyawa. Patung I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar di Denpasar kini menjadi pengingat generasi muda untuk meneladani keberanian, disiplin, dan pengabdian beliau bagi Indonesia. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *